Cara mahasiswa gunadarma untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsa menjadi lebih baik lagi didalam negeri dan diluar negeri

Standar

Apabila suatu bangsa dan negara mengalami keterpurukan, maka tidak ada pihak yang paling bertanggung jawab kecuali penyelenggara pendidikan yang telah melahirkan para pemikir dan pemimpin bangsanya.

Untuk menjadi agen perubahan, mulailah dari menata diri sendiri,
agar dapat menjadi panutan kearah mana perubahan dilakukan.

Perguruan Tinggi yang sukses adalah
yang mendapatkan perlindungan dari alumninya.

Setelah kemerdekaan Indonesia tercapai, masalah pembinaan bangsa perlu dikembangkan secara intensif. Tindakan yang paling efektif dalam melaksanakan pembinaan adalah melalui pendidikan bangsa dalam arti luas.
Adapun tujuan pendidikan bangsa tersebut mencakup :

  • membangun kesadaran akan arti penting kemerdekaan,
  • membangun keinginan mensejahterakan kehidupan rakyatnya secara berkeadilan melalui usaha bersama dalam semangat mengisi kemerdekaan,
  • merumuskan kebijakan politis sebagai panduan berkarya dalam mewujudkan cita cita bersama, berbasis potensi dan jati dirinya,
  • membekali kemampuan menyusun strategi dan melaksanakan program kerja secara tepat, bersemangat, berjaminan dan berkelanjutan,
  • menyelenggarakan tata pengaturan bernegara dalam pergaulan antar bangsa yang bermartabat dan bertanggungjawab.

Butir butir tersebut merupakan factor determinan dalam pembangunan bangsa (Nation and Character Building) yang integral tidak dapat saling terpisahkan.

Tidak dapat disangkal bahwa secara historis Universitas gunadarma yang lahir didalam kancah perjuangan mempunyai ikatan batin dengan para pelaku sejarah bangsa Indonesia. Khususnya sebagai catatan penting adalah perannya sebagai pemrakarsa/pelopor didalam usaha mengukuhkan Pancasila sebagai dasar NKRI. Banyak peristiwa penting berskala nasional yang berkaitan dengan Pancasila selalu melibatkan Universitas gunadarma Sungguh hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Universitas gunadarma, yang telah ikut berperan memberi arah perjalanan sejarah kehidupan bangsa Indonesia pasca kemerdekaan. Sehingga kebanggaan itu menjadi dorongan bagi Universitas gunadarma, relative dibandingkan pihak lain, untuk mengadakan peringatan hari lahirnya Pancasila  yang diisi dengan evaluasi pelaksanaan program kerja dan mawas diri.

Dikaitkan dengan kondisi negara akhir-akhir ini, Universitas gunadarma dituntut untuk  melakukan evaluasi terhadap implementasi semangat ideologi Pancasila dalam tata kehidupan di NKRI. Namun demikian sebelumnya akan lebih bijak dan simpatik apabila didahului dengan langkah mawas diri ke dalam Universitas gunadarma sendiri, tentang penerapan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kebijakannya melaksanakan visi dan misinya, untuk ikut mencerdaskan bangsa.

Mawas diri bagi Universitas gunadarma, dengan tolok ukur tingkat ke-Pancasilais-annya, akan merupakan langkah terpuji sekaligus bukti tingkat kecintaan, kedekatan, kepedulian dan tanggungjawabnya terhadap penerapan Pancasila sebagai dasar tata penyelenggaraan kehidupan bangsa dan NKRI. Harus dipahami bersama bahwa NKRI, Pancasila dan Universitas gunadarma mempunyai sejarah hubungan yang unik dan berpengaruh pada jati diri universitas ini. Dengan demikian tingkat ke-Pancasilais-an Universitas gunadarma diharapkan akan menjadi acuan sekaligus sumber inspirasi dalam “pengejowantahan” nilai-nilai Pancasila kedalam kehidupan masyarakat luas sehari-harinya.

Pancasila sebagai sumber hukum sepantasnya menjadi acuan tata penyelenggaraan Universitas gunadarma dalam mengemban amanat rakyat Indonesia melalui pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi sebagai urusan pokoknya. Tugas Universitas gunadarma dalam ikut mendidik bangsa dalam rangka “nation building” harus ditempatkan sebagai orientasi dalam berperilaku mendidik bangsa sekaligus mengantar bangsa ini merealisasikan cita-cita kemerdekaannya. Dengan demikian Universitas gunadarma harus mampu melakukan proses pendidikan dalam arti utuh baik pendidikan formal, nonformal maupun informal, dan terutama harus mampu tampil menjadi panutan didalam mengamalkan ajaran Pancasila bagi masyarakat diluar kampus.

Ketika “Founding Fathers” . Apabila dikaji ada kesamaan antara nilai luhur Pancasila dengan nilai luhur agama. Sungguh akan menjadi suatu sumber semangat patriotisme dimasa kini, apabila di dalam nilai luhur Universitas gunadarma mampu menyerap kedua nilai luhur tersebut.

diharapkan dapat sebagai tolok ukur keutuhan jati diri dan ”leadership” Universitas gunadarma

”Pantang makan nasi sebelum terwujud persatuan dan kesatuan Nusantara”.

Secara jelas didalam ikrar tersebut terasa adanya nuansa keprihatinan yang mendalam dan keberanian berkorban untuk kepentingan rakyat, setelah melihat kenyataan kondisi bangsa dan negaranya yang berada di luar sana Tersirat bahwa ”dunia di luar masyarakat” bukanlah ”dunia lain”  bagi yang berada didalam masyarakat.  Dengan demikian kesuksesan Universitas gunadarma dapat dinilai dan diukur dari keberhasilan peserta didik dan peran Universitas gunadarma dalam ikut menyelesaikan masalah bangsa dan NKRI tercinta. Untuk itu rasa cinta pada tanah air harus menjadi sumber motivasi kerja Universitas gunadarma.

Fakta adanya masalah di luar kampus dan perlunya kejujuran hati nurani dalam “membaca” fakta tersebut perlu diketengahkan disini. Sebagai umat beragama, diperintahkan untuk “membaca” fakta tersebut, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dengan cermat dan dengan seluruh kemampuannya. Dari itu, terlihat jelas adanya ironi kehidupan yang cukup memalukan bagi bangsa ini. Adapun ironi yang sangat memalukan di negeri tercinta ini antara lain :

  1. sebagai negara subur tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya,
  2. sebagai negara dengan kekayaan SDA sangat melimpah, tetapi standar kehidupan bangsa, layaknya seperti berada di negara miskin,
  3. sebagai negara yang relative miskin, namun berperilaku boros (terutama para pemimpinnya ?) dalam kehidupannya,
  4. sarjananya semakin banyak tetapi krisis multi dimensi terjadi semakin menjadi jadi, nyaris tanpa henti,
  5. hasil penelitian di dalam kampus bertumpuk, tetapi masalah di depan pintu gerbangnya tak kunjung terselesaikan.

Dan masih banyak lagi ironi yang nyaris meluluh lantakkan jatidiri, harkat dan martabat bangsa Indonesia di dalam pergaulan antar bangsa & negara. Lalu apa yang telah dilakukan oleh Universitas gunadarma didalam ikut menyelesaikan masalah bangsa dan negara ?.

Mawas Diri dengan fokus pada Perilaku Universitas gunadarma dengan seluruh insan kampus dan alumninya, menggunakan tolok ukur tingkat ke-Pancasilais-an, akan menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam upaya mendidik orang berpendidikan. Adapun rasa malu, kejujuran, kepekaan dan kearifan sebagai muatan pokok pendidikannya, dengan sasaran utama pada hati nuraninya. Selanjutnya “Road Map” menuju Universitas gunadarma yang (lebih) Pancasilais perlu segera disusun dengan mengetengahkan program perbaikan system tata nilai dan atmosfer kehidupan kampus baik atmosfer akademik maupun sosialnya, juga tata nilai pergaulan dengan masyarakat dan kepekaan/kepedulian dengan permasalahan di luar kampus. Selanjutnya didalam “road map” tersebut penyelenggaraan pendidikan secara utuh-sinergis-visioner harus dapat secara terbuka, mudah dibaca dan dapat dipahami oleh seluruh pihak yang mengaku insan Universitas gunadarma.

Kreativitas seluruh insan kampus harus diberi akses dan ruang untuk dapat berkembang sesuai kharakternya masing masing, sebab pada hakekatnya kondisi  keberagaman kemampuan insan kampus yang dituntun oleh kemurnian kata hati nurani, akan merupakan potensi luar biasa yang menjanjikan sebagai modal untuk melakukan perubahan.

Perpustakaan berkembang pesat dari waktu ke waktu menyesuaikan dengan perkembangan pola kehidupan masyarakat, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi. Perkembangan tersebut juga membawa dampak kepada “pengelompokkan” perpustakaan berdasarkan pola-pola kehidupan, kebutuhan, pengetahuan, dan teknologi informasi tadi. Istilah-istilah perpustakaan “membengkak” menjadi sangat luas namun cenderung mempunyai sebuah spesifikasi tertentu. Dilihat dari perkembangan teknologi informasinya perpustakaan berkembang dari perpustakaan tradisional, semi-tradisional, elektronik, digital hingga perpustakaan “virtual”. Kemudian dilihat dari pola kehidupan masyarakat berkembang mulai perpustakaan desa, perpustakaan masjid, perpustakaan pribadi, perpustakaan keliling, dan sebagainya. Kemudian juga dilihat dari perkembangan kebutuhan dan pengetahuan sekarang ini banyak bermunculan istilah perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan anak-anak, perpustakaan sekolah, perpustakaan akademik (perguruan tinggi), perpustakaan perusahaan, dan lain sebagainya.

Pengertian perpustakaanpun berkembang dari waktu ke waktu. Pada abad ke-19 perpustakaan didefinisikan sebagai “ suatu gedung,ruangan atau sejumlah ruangan yang berisi koleksi buku yanng dipelihara dengan baik,dapat digunakan oleh masyarakat atau golongan masyarakat tertentu. Kemudian ALA (The American Library Association) menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas yaitu termasuk pengertian “ pusat media, pusat belajar, pusat sumber pendidikan, pusat informasi, pusat dokumenstasi dan pusat rujukan “. Sedangkan menurut Keputusan Presiden RI nomor 11, disebutkan bahwa “ perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian.

Itulah salah satu cara universitas gunadarma untuk mencerdaskan masyarakat diluar sana dengan cara membuka perpustakaan untuk masyarakat luas oleh karena itu universitas gunadarma mengadakan suatu aktifitas untuk memperoleh keberhasilan dalam mengembangkan salah satu pedoman hidup untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi dan universitas gunadarma juga memberikan saran kepada mahasiswa-mahasiswa khususnya mahasiswa gunadarma untuk lebih rajin lagi didalam mencari ilmu khususnya didalam membaca buku diperpustakaan yang telah disediakan oleh universitas gunadarma.jadi salah satu cara universitas gunadarma,untuk memberikan solusi kepada masyarakat luas untuk menjadi hidup lebih baik lagi yaitu dengan cara membaca buku setiap saat.

bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.

Adapun pengertian perpustakaan untuk seluruh universitas adalah perpustakaan yang berada dalam suatu kampus yang kedudukan dan tanggung jawabnya kepada kepala pimpinan di kampus atau diuniversitas tersebut (disebut juga rektor) yang melayani sivitas akademika universitas yang bersangkutan.

Fungsi Perpustakaan diuniversitas

Perpustakaan universitas dalam perannya di dunia pendidikan mempunyai fungsi sebagai :

a. Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk pendidikan seperti tercantum dalam silabus pelajaran-pelajaran yang akan diajarkan.

b. Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.

c. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan)

d. Pusat Belajar Mandiri bagi mahasiswa/i

Dari beberapa fungsi tersebut maka dapat dilihat bahwa sudah semestinya perpustakaan menjadi bagian integral dari sistem pembelajaran, bukan lagi menjadi ‘pelengkap’ saja bagi keberadaan sebuah sekolah.

Konsep Dasar Manajemen Perpustakaan

Manajemen dalam perpustakaan sekolah bukan sekedar kegiatan menempatkan buku-buku di rak, akan tetapi lebih dari itu, sangat kompleks, berkelanjutan, dan selalu berubah. Jadi manajemen merupakan sebuah proses yang memfokuskan pada memperhatikan kegiatan dari hari ke hari, menghadapi permasalahan isi dan integrasi dengan tujuan-tujuan sekolah. Kegiatan manajemen adalah kegiatan yang mencerminkan adanya sebuah sistem, terkait dan terdiri dari beberapa aspek atau factor untuk mendukungnya. Beberapa

faktor yang dapat ditemui dalam sebuah proses manajemen perpustakaan diantaranya adalah:

• Kebijakan dan prosedur

• Manajemen Koleksi

• Pendanaan dan Pengadaan

• Manajemen Fasilitas

• Sumber Daya Manusia

• Perencanaan

Bagi pengelola perpustakaan (mahasiswa-pustakawan), kegiatan manajemen merupakan bagian atau peran serta dalam pendidikan di luar kampus. Secara efektif perpustakaan harus mampu mendukung kurikulum dan program-program kampus. Untuk mewujudkan manajemen perpustakaan yang baik, maka pengelola perpustakaan perlu:

• Mengembangkan kemampuan professional sebagai mahasiswa-pustakawan.

• Memperhatikan kemampuan yang diperlukan dan prosedur yang dibutuhkan untuk dapat mengelola perpustakaan secara efektif – dari perpustakaan yang sekedar bertahan hidup menjadi perpustakaan yang benar-benar berjalan secara baik.

• Mengembangkan kebijakan dan prosedur dengan prinsip-prinsip yang mengaktualisasikan visi dari perpustakaan sekolah.

• Memperlihatkan keterkaitan antara sumber-sumber informasi dan tujuan dan prioritas sekolah, serta program perpustakaan.

• Menunjukkan peran guru-pustakawan melalui rencana manajemen.

 

Faktor-faktor Manajemen Perpustakaan universitas.

1. Prosedur dan Kebijakan

Prosedur merupakan ‘CARA’ atau ‘BAGAIMANA’ kegiatan dan aksi-aksi akan dapat mengimplementasikan sebuah rencana spesifik atau

menjalankan sebuah kebijakan. Kebijakan sendiri mengarah pada ‘MENGAPA’ atau “APA’ prinsip-prinsip dari organisasi (kampus/perpustakaan). Kadang kala sebuah kebijakan terhadap perpustakaan kampus sangat dipengaruhi oleh kondisi kebijakan di lingkungannya, baik dari luar kampus maupun didalam kampus atau pemilik kampus tersebut, dinas pendidikan, pemerintah atau mungkin departemen pendidikan. Sebagai pengelola perpustakaan (mahasiswa-pustakawan), maka kita perlu secara jelas memahami bagaimana mengelola perpustakaan secara efektif, dimana kebijakan kampus, yayasan, pemerintah dan kebijakan lainnya harus dijalankan, dan prosedur harus dapat merefleksikan kebutuhan-kebutuhan kampus itu sendiri. Kebijakan disini termasuk didalamnya pendanaan, pengelola, dukungan untuk mahasiswa-pustakawan dan factor-faktor lain yang berhubungan. Hal-hal yang perlu dilakukan mahasiswa-pustakawan atau pengelola kaitannya dengan prosedur dan kebijakan adalah:

• Melihat kembali sumber-sumber yang dimiliki dan mendefinisikannya sesuai kebutuhan dan perkembangan kebijakan kampus

• Melihat, memperhatikan dan memperbaharui prosedur-prosedur lokal – Sirkulasi, Pemesanan pustaka, dll

• Membuat sebuah pernyataan visi dari perpustakaan kampus yang sesuai dengan kebijakan yang ada.

• Memperhatikan kebijakan-kebijakan baru dari kampus mengenai perpustakaan kampus gunadarma.

Perpustaakaan juga perlu melakukan perencanaan strategis dalam menentukan prosedur dan kebijakan dari perpustakaan itu sendiri, caranya:

– Mulailah dari sebuah visi,

– Kemudian lakukan ‘assessment ‘ kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi

– Terakhir, buat sebuah kebijakan dan prosedur untuk berbagai macam wilayah manajemen dimana anda bertanggungjawab di dalamnya.

Yakinkan dalam proses ini memperhatikan prinsip-prinsip dalam kelompok yang mempunyai minat berbeda di universitas lainnya. Selalu lakukan cek pada kebijakan yang telah kita buat, apakah ada permasalahan atau complain? Yang terpenting bahwa setiap membuat sebuah kebijakan atau prosedur harus selalu mempertimbangkan visi, kebutuhan, dan keadaan dari sekolah atau lembaga induknya. Karena pada prinsipnya perpustakaan sekolah harus dapat mencerminkan visi dan misi sebuah lembaga pendidikan kampus tersebut.

 

 

 

 

 

 

2. Manajemen Koleksi

Manajemen koleksi merupakan area kunci dari tangungjawab seorang mahasiswa/i-pustakawan. Koleksi sendiri dapat didefiniskan sebagai sebuah bahan pustaka atau sejenisnya yang dikumpulkan, dikelola, dan diolah dengan criteria tertentu. Pengelolaan koleksi yang baik akan menentukan sukses tidaknya sebuah program perpustakaan kampus. Karena tanpa dikelola dengan baik, maka koleksi akan tetap menjadi kumpulan atau tumpukan buku yang tidak bermakna. Salah satu karakteristik dari sebuah koleksi perpustakaan kampus adalah beragamnya jenis sumber atau bahan pustaka tergantung pada kebutuhan pengajar, ukuran atau jumlah koleksi, bagaimana cara mengaksesnya dan keterbaruan. Banyak hal sebetulnya yang dapat dilakukan untuk mengelola koleksi, mulai dari pengadaan, pengolahan teknis (seperti inventarisasi, klasifikasi, pelabelan, penempatan, pemilihan), dan memang tentunya itu membutuhkan perhatian yang serius dari guru-pustakawan. Dalam manajemen koleksi sebetulnya jumlah bukan suatu hal yang menjadi sangat prinsip, akan tetapi lebih penting bagaimana koleksi itu dapat dimanfaatkan dengan baik atau tidak.

“It does not matter how many books you may have, but whether they are good or not.” – Lucius Annaeus Seneca (3 B.C.-65 A.D.), Epistolae Morale

Beberapa hal yang masuk dalam manajemen koleksi diantaranya adalah:

– Pemetaan koleksi dan kurikulum

– Seleksi: Kebijakan dan Prosedur

– Kegiatan Katalogisasi

– Pemilahan / Weeding

– Rencana Pengembangan Koleksi

3. Pendanaan dan Pengadaan

Pendanaan adalah masalah yang sering menjadi ‘momok’ bagi sebagian pengelola perpustakaan dalam mengembangkan perpustakaannya. Untuk itu masalah pendanaan ini harus direncanakan sedini mungkin. Melalui sebuah ‘assesment’ terhadap koleksi dan tujuan pengembangan program-program, sebuah rencana pendanaan dapat dilakukan dan dikeluarkan dalam sebuah dokumen perencanaan bagi perpustakaan kampus. Sebuah rencana pendanaan akan membantu kita dalam meyakinkan dewan KAMPUS atau pemilik kampus untuk menyetujui dan juga sebagai bukti akuntabilitas dari program-program perpustakaan. Rencana pendanaan harus menjadi bagian ‘integral’ dari pendanaan rutin kampus. Langkah selanjutnya apabila sudah disetujui, maka tugas dari pengelola perpustakaan untuk merancang dan mengawal penggunaan dana yang sudah diajukan. Hal ini harus dilakukan secara sistematis dan sesuai dengan prosedur yang sudah dirancang sebelumnya. Kegiatan pendanaan ini sangat erat hubungannya dengan sebuah kegiatan pengadaan. Pengadaan di perpustakaan dapat meliputi pengadaan koleksi, fasilitas, ruang, alat maupun lainnya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rencana pendanaan:

• Pertimbangkan biaya untuk pengiriman, biaya repackaging, biaya untuk pajak, dan sebagainya.

• Usahakan agar pengadaan bahan pustaka 30% fiksi dan 70% non-fiksi – namun perlu juga dipikirkan atau disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Misal untuk anak-anak SMP mungkin juga proporsi tersebut akan berbeda dengan anak-anak SMA, karena biasanya untuk anak-anak SMP seringkali membutuhkan buku-buku yang mudah untuk dipahami.

• Rencana pendanaan harus berkesinambungan dari tahun ke tahun.

• Tiap sekolah atau institusi mungkin mempunyai format perbedaan dalam hal pendanaan, yakinkan bahwa hal ini sesuai dengan kebijakan yang ada.

• Masukan pendanaan untuk buku atau koleksi yang rusak atau hilang.

• Yakinkan bahwa setiap pengeluaran dana tercatat dengan baik untuk keperluan akuntabilitas.

• Dokumen pendanaan akan sangat membantu kita dalam merancang pengeluaran operasional perpustakaan.

• Yakinkan bahwa proses seleksi bahan pustaka memperhatikan rencana pendanaan yang ada.

• Buatlah Diagram Alur Pendanaan yang menggambarkan semua proses selama 1 tahun misalnya.

• Buatlah sebuah keterangan yang menunjukkan implikasi rencana pendanaan dengan tujuan kurikulum dan program kampus tersebut.

4. Fasilitas

Fasilitas perpustakaan menjadi sisi lain yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perpustakaan. Seringkali yang terjadi masalah perpustakaan adalah masalah ‘ketiadaan’ atau ‘ketidakberdayaan’ fasilitas. Mulai dari ketiadaan tempat, ketiadaan koleksi, ketiadaan sarana pendukung, dan sarana prasarana lainnya. Biasanya tiap level kampus mempunyai karakteristik masing-masing dalam perencanan fasilitas. Namun yang penting dalam pengelolaan fasilitas harus diperhatikan 3 hal yakni:

– Nyaman (Comfort)

– Terbuka (Welcome)

– Kemudahan bagi pengguna (User-friendly)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s